Sabtu, 15 Juni 2013

NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural

Ketua MWC NU Kecamatan Bangsri Jepara, Jawa Tengah, KH Ahmad Jazuli mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) bukan hanya dipahami dari gerakan kulturalnya saja, melainkan juga gerakan struktruralnya. Keduanya harus disinergikan secara bersama-sama. 

Hal itu merupakan pokok paper Kiai Jazuli untuk materi Ke-NU-an yang disampaikan kepada peserta Latihan Kader Muda (Lakmud) PAC IPNU-IPPNU Bangsri di MTs Hasyim Asyari Bangsri, pada Jum’at (14/6) pagi.

Kiai Jazuli menambahkan, sejauh ini banyak yang menilai NU merupakan gerakan kultural karena kegiatan-kegiatan yang digagas bernuansa kultural. Semisal istighatsah, tahlil,  dibaan, manaqib, yasinan dan sejenisnya. Alih-alih nuansa kultural itu sebut kiai Jazuli kerap menjadi instrumen untuk mengidentifikasi seseorang itu NU atau bukan. 

Meski demikian, ia mengutip pendapat Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Masudi, kekuatan kultural itu menjadi kelebihan NU yang melekat kuat sejak NU lahir. 

Lebih lanjut ia mengemukakan bahwasanya NU merupakan kombinasi dari gerakan kultral dan struktural. Pengelolaan energi NU, lanjut Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) Hasyim Asyari Bangsri Jepara ini, harus dilakukan secara proporsional. 
 
“40 % energi NU untuk melestarikan kultur sedangkan 60% untuk membangun struktur organisasi yang kuat dan kokoh,” jelasnya. 
 
Hal itu sebutnya sejalan dengan falsafah NU yang sangat popular—al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Ketua Jurusan program Imersi MA Hasyim Asyari menyatakn falsafah itu memuat 2 poin--al muhafadzah alal qadimis shalih dan al ahdzu bil jadidil ashlah.
 
Poin pertama, sambung Jazuli, NU harus merawat dan melestarikan tradisi. Sedangkan poin kedua NU harus mendesiminasi tradisi baru melalui pembangunan struktur organisasi yang kuat dan kokoh yang berorientasi kepada pelayanan umat, “Kekuatan kultur tanpa diimbangi kekuatan struktural tidak akan banyak berarti. Sebab ikatan-ikatan kultural itu nantinya menjadi sangat rapuh,” imbuhnya. 
 
Karenanya, NU tambahnya harus membangun nizham organisasi yang kuat dan modern untuk membentengi kultur sekaligus memberdayakan Nahdliyyin sehingga manfaat keberadaan NU tidak hanya bersifat kultural namun juga menyentuh semua sendi kehidupan.
 
Kiai Jazuli juga menyatakan untuk melestarikan kultur dan membangun struktur organisasi yang kuat menurutnya semua pemangku kepentingan di NU harus terlibat secara optimal. Baik pemangku pesantren yang menjadi kekuatan NU, pimpinan masjid maupun penggerak roda organisasi dari level tertinggi hingga terbawah. 
 
“Bila gerakan kultur dan struktur dipadukan degan baik maka patut diyakini bahwa NU akan menjadi organisasi terbesar yang kokoh, kuat, berwibawa dan disegani,” harapnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar